Bagi saya, Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terburuk sepanjang hidup saya. Semua targetan ibadah tidak terlaksana dengan baik. Sedih. Namun hikmah Ramadhan tahun ini setidaknya ada sedikit yang bisa aku petik. Saya terenyuh bercampur kaget ketika menerima telepon dari teman lamaku di Solo. Namanya tidak usah aku sebut. Waktu sahur di Ramadhan ke-29 saya menerima telepon darinya. Aku kaget, tidak biasanya temanku menelepon. Pasti ada hal penting yang harus ia sampaikan kepada saya. Dalam keadaan kaget dan bertanya-tanya akhirnya saya terima teleponnya. Nah, yang membuat saya terkaget-kaget, terkesima dan terenyuh, dia menawarkan proyek sebagai tim pemenangan calon anggota DPD dari daerah Jawa Barat. Wow, dia yang saya kenal dahulu adalah seseorang yang apolitis malah menjadi politisi. Dia menyebutnya dagangan politik.
“Nis, hidup ini pragmatis, saya harus belajar politik!” kurang lebihnya saya tangkap dari perkataannya.
“Saya punya banyak jaringan di Jakarta,” dia sebutkan beberapa nama tokoh politik terkenal dari beberapa parpol termasuk juga calon anggota DPD tersebut.
“Nah, kamu bisa tidak tolong kita untuk bantu-bantu di Daerah Jawa Barat?” pinta dia.
“Waduh mas, posisi saya di Banten!” jawabku.
Karena tidak sesuai harapan,akhirnya kita ngobrol sekenanya. Ada pertanyaan yang sempat menggelayut dipikirkan saya dan akhirnya saya utarakan:
“Mas, panjenengan masih ngaji Salaf?”
“Wah, semua itu adalah wadah, bukan jaminan kita masuk surga toh? Saya harus realistis, kita harus bertahan hidup, saya sekarang berkecimpung di Politik, yang penting apa yang bisa kita jual!”
“Oh, jadi sudah tidak ngaji lagi?” tanyaku penasaran.
“Sudah tidak!”
Seingatku, dia adalah teman berdebatku tentang ajaran salafy di Indonesia. Dia dulu pernah jadi aktivis Salafy dan Laskar Jihad. Dia orang orang yang menyerang demokrasi sebagai sistem yang tidak baik. Namun kali ini realitas yang kudapat berbalik 180 derajat. Perubahan paradigma yang radikal. Dia menjadi pragmatis. Mungkin pengaruh hidup yang mengelilinginya. Sejak dua tahun lalu dia diangkat jadi CPNS guru. Namun katanya SK PNS belum turun ketangannya.
“Kita tidak bisa hidup mengandalkan dari itu saja, harus ada jalan lain. Akhirnya saya harus terjun ke dunia politik, yang penting menghasilkan dan ada yang dijual” Katanya,
Saya punya dua pelajaran hidup yang didapat dari kejadian itu. Pertama, jika Sutrisno Bachir bilang hidup adalah perbuatan, bagi saya hidup adalah pilihan. Ya, banyak pilhan hidup didepan mata kita. Kita tinggal memilih mana yang menurut kacamata hidup kita anggap benar. Tiap orang berbeda pilihan. Pilihan pun kadang tidak pernah tetap ada kalanya harus berubah. Seperti kawan saya tadi. Di perkuat lagi dengan perubahan kawan saya yang lain dan sempat kontak dengannya lewat Friendster dan SMS. Temanku yang satu ini pernah Atheis saat kuliah bersamaku. Namun di tahun ini, setelah melihat komentar-komentarnya di buletin Friendster, saya sangat kaget, dia sekarang lebih relijius dan kritis. Luar biasa.
Kedua, perubahan teman yang kuceritakan pertama tadi, bisa jadi pengaruh dari pandangan hidup itu perlu uang, uang dan uang. Betul, hidup ini ternyata selalu terkait dengan uang. Ujung-ujungnya duit. Dijaman sekarang urusan apa yang tidak terkait dengan uang? Saudaraku saja, selama hidupnya sampai saat ini, yang aku tahu dia selalu mengalami kesulitan uang, keributan keluarganya selalu disebabkan oleh uang. Sekecil apapun uang, ia selalu menjadi masalah. Uang menjadi tuhan yang tidak kita sadari. Dia hadir dan akhirnya memerintahkan hati kita untuk menyembahnya. Setidaknya aliran darah kita tak terlepas dari “zikir” bagaimana mendapatkan uang. Uang menjadi berhala. Naudzubillah. Pernah ingat kasus si raja Jagal Ryan? Dia menjadi penjagal karena gaya hidupnya yang diperbudak uang dan kemewahan. Bayanganku, ini adalah keberhasilan kapitalisme meracuni umat manusia, khususnya orang Islam. Hebat, luar biasa apa yang dilakukan kapititalisme.
Pikiran saya sambung-sambungkan dengan kondisi umat Islam saat ini dan kecenderungan yang dilakukan meraka di bulan Ramadhan ini. Bulan Ramadhan menjadi bulan yang konsumtif. Anggaran belanja di bulan Ramadhan mendadak berubah menjadi dua kali lipat. Silahkan saja kita tanya pada Orangtua, istri, atau tetangga-tetangga kita. Belum lagi kecenderungan harga barang keperluan keluarga naik drastis jika memasuki Ramadhan apalagi menjelang lebaran. Seakan bagi dunia bisnis, Ramadhan adalah bulan berkah bagi kaum kapitalis dan pedagang. Ramadhan dan umat Islam adalah pasar potensial yang dapat dikeruk. Ada kapitalisasi puasa di setiap bulan Ramadhan. Agama seakan dijual. Program televisi, hingga mal-mal yang perang diskon menandakan bahwa ujung dari keberagamaan kita ujungnya bermuara pada uang. Kesolehan menjadi komoditas yang bisa diperjual belikan, diciptakan dalam satu bulan saja. Sedih. Sedih karena ini akan selalu berlaku disetiap Ramadhan sepanjang tahun. Uang telah menguasai kita.

Iklan