Idul Fitri bagi semua orang adalah momen paling baik untuk berkumpul dengan sanak saudara. Termasuk bagi pembantu kami di rumah. Tahun ini, kami berlebaran di rumah orangtuaku di Penancangan, Serang. Kami masih bisa disebut mudik karena kita harus hijrah dari satu daerah ke daerah lain. Walaupun jaraknya dapat ditempuh hanya dalam waktu 15 menit saja (hehehe maksa banget) 🙂 .
kompleks rumahku hanya tetangga kelurahan dengan kelurahan orangtuaku. Anak dari orang tuaku berjumlah 6 orang termasuk aku ditambah 5 cucu. Rumah menjadi ramai dan sesak karena seluruh anggota keluarga akhirnya lengkap berkumpul. Tahun-tahun sebelumnya memang selalu tidak lengkap. ditambah lagi satu orang adik ibuku (bibi kami) yang memang rumahnya berdekatan dan selalu berkumpul dan main kerumah orangtuaku. Nah, berhubung pembantu dirumah orangtuaku pulang kampung. Maka pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab kita bersama. Kebetulan juga ibuku penjual kue pesanan, maka pekerjaan rumah pun bejibun. Semua orang punya job masing-masing. Nah, giliran kita berdua kebagian kerjaan. Biasanya para pasangan di malam takbiran, berkeliling kota. Bagi kami pasangan suami istri bukan jamannya lagi berdua-duaan bergaya anak muda. Malam takbiran kami isi dengan mencuci piring. Ya, kami berdua bertakbiran sambil cuci piring peralatan makan dan masak yang seabrek-abrek bekas makan berbuka dan peralatan masak bekas ibu memasak kue. Alhasil kita diledeki oleh ibuku “mojok di bawah keran pancuran air cucian.” Hehehe ini Pacaran gaya baru. Pacaran sambil memperkuat kekompakan keluarga kami dengan mencuci piring. Sambil elus-elus piring, mangkok, gelas, sendok, garpu, pisau, panci dan pinggan alias kenceng kita juga bisa colek-colekan mesra dan menggoda. Hehehe cucian deh luh, pacaran kok sambil cuci piring!

Iklan