Obama sampai sekarang masih menjadi buah bibir. Dia diharapkan menjadi agen perubah dunia. Orang2 Indonesia juga latah jadi Fans Obama. Gara2nya obama pernah sekolah di SD di kawasan Menteng selama 1 tahun di Indonesia. (hahaha ngaruh ya sama Indonesia???!!!)
Lihatlah reaksi Obama saat melihat genocide yang dilakukan Israel terhadap rakyat Gaza Palestine… Obama jadi orang nomor satu pembela Israel!!!
Ah Obama sama saja dengan yang lain. Bersembunyi di balik ketiak orang2 Israel. Uang tetap nomor satu.
oh ya ini analisis yang baik tentang hubungan obama dan israel. maka berfikir dua kalilah jika kita akan mendukung obama….!!
saya ambil artikel di bawah dari link sabili

Antara Obama Israel dan Konflik Timur Tengah
Oleh: “Supriyadi S.Si.” < <!– var prefix = 'ma' + 'il' + 'to'; var path = 'hr' + 'ef' + '='; var addy66269 = 'azizahazmin' + '@'; addy66269 = addy66269 + 'gmail' + '.' + 'com'; document.write( '‘ ); document.write( addy66269 ); document.write( ” ); //–>\n azizahazmin@gmail.com <!– document.write( '‘ ); //–> Alamat email ini sudah di proteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihat alamat email ini <!– document.write( '’ ); //–> >

Ketika pecah perang Hizbullah-Israel, Obama dengan tegas mengatakan bahwa Israel berhak membela diri. Hal inilah yang membuat Obama dilirik yahudi ketimbang McCain

Sejak terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44, dunia merasakan angin perubahan. Dunia berharap banyak pada Obama. Setidaknya bisa merealisasikan janji-janjinya saat kampanye, yakni perubahan. Obama dianggap sebagai sosok yang mampu merubah citra amerika di mata dunia.

Amerika dengan segala arogansinya. Amerika yang terlalu banyak ikut campur dalam urusan dalam negeri negara lain. Amerika yang tak segan-segan menjatuhkan sanksi ekonomi bahkan agresi meliter terhadap negara yang dianggap tak sejalan dengannya.

Sayangnya harapan dunia hanya harapan kosong. Amerika bukanlah negara demokratis sebagaimana mereka dengungkan. Pemilu di amerika hanyalah dagelan politik murahan buatan Zionis Yahudi. Siapapun yang akan menjadi presiden di amerika harus mendapat restu yahudi. Tak terkecuali Barack Obama.

Sehingga mengharap sesuatu terhadap obama sama dengan mengharap pada yahudi. Seluruh sepak terjang presiden amerika serikat merupakan refleksi kepentingan yahudi. Presiden tidak ubahnya wayang yang dikendalikan oleh dalangnya yakni, Yahudi.

Di Amerika, Yahudi menanamkan hegemoninya begitu dalam. Seluruh kegiatan politik Amerika baik di dalam maupun di luar akan dipantau secara langsung oleh lembaga lobi Yahudi yaitu AIPAC (American Israel Public Affairs Committee).

Lembaga resmi ini didirikan tahun 1950-an. Kelompok lobi ini, dibangun oleh komunitas Yahudi Amerika untuk menjaga kepentingan Israel. AIPAC memiliki lima atau enam pelobi resmi di Kongres dengan staf berjumlah 150 orang, dengan dukungan budget tahunan sebesar 15 juta dollar.

Dana yang antara lain mereka kumpulkan dengan cara “memeras” diaspora Yahudi yang tinggal di Amerika. Mengeksploitasi perasaan bersalah para diaspora yang dianggap hidup enak di negeri orang, sementara saudaranya yang tinggal di Israel setiap hari harus berhadapan dengan intifada atau bom bunuh syahid dari kelompok pejuang Palestina.

Selain AIPAC, masih ada Conference of Presidents of Major Jewish Organizations (CPMJO). Menurut riset National Journal pada Maret 2005 dan Forbes pada 1997, dalam hal melobi Washington, AIPAC hanya kalah oleh Asosiasi Pensiunan AS.

Mereka didukung tokoh-tokoh terkemuka Kristen Evangelis seperti Gary Bauer, Jerry Falwell, Ralph Reed, Pat Robertson yang bernaung di bawah bendera The American Alliance of Jews and Christians (AAJC). Kelompok ini muncul pada Juli 2002 dipimpin Bauer dan Rabi Daniel Lapin.

“Prioritas utama saya dalam kebijakan luar negeri adalah melindungi Israel,” ujar Dick Armey, seorang Kristen Zionis, mantan orang kuat di parlemen, dua bulan setelah AAJC berdiri.

George Sunderland, nama pena anggota Kongres AS, dalam situsnya, http://www.counterpunch.org, menulis, lobi Israel di Kongres terus menguat dari tahun ke tahun. Pemain utamanya AIPAC.

“Bukan cuma karena uang yang mereka berikan (kepada para politikus), mereka juga bisa menghukum secara politis,” tulisnya.

Gagalnya senator dari Illinois, Charles Percy, kembali ke Capitol Hill pada 1984, misalnya, diduga karena lobi AIPAC. Mereka marah gara-gara Percy mendukung penjualan pesawat pengintai Awacs kepada Arab Saudi dan mengkritik Israel. Direktur Eksekutif AIPAC, Tom Dine, mengisyaratkan itu dalam sambutannya di Toronto tahun yang sama.

“Semua orang Yahudi bersatu untuk menyingkirkan Percy,” katanya. “Ini pesan bagi para politisi Amerika.”

Di pemerintahan, lobi Yahudi menancapkan kukunya dengan membantu biaya kampanye kandidat baik dari Republik maupun Demokrat. Koran Washington Post pada 2003 menghitung, 60 persen dari dana kampanye para calon presiden Demokrat berasal dari pengusaha Yahudi.

Jerusalem Post pada 2000 melaporkan: Yahudi menyumbang 50 persen dana kampanye Bill Clinton pada 1996! Jimmy Carter pun, pernah dibuat “keder” oleh kelompok lobi. Carter sebenarnya ingin mengangkat George Ball, yang kritis terhadap Israel, sebagai Menteri Luar Negeri, tapi takut akan lobi Israel, dia akhirnya hanya menjadikan Ball wakil Menlu.

Michael Massing di The New York Review of Book edisi 8 Juni 2006 menulis, kebijakan AIPAC sangat bergantung pada para direkturnya yang dipilih berdasarkan kekayaan. Yang paling berpengaruh adalah Robert Asher, Edward Levy, Mayer Mitchell, dan Larry Weinberg. Celakanya, empat pengusaha kaya-raya yang dikenal sebagai “Gang of Four” ini, menurut editor di Columbia Journalism Review itu, tak peduli terhadap mayoritas Yahudi di AS yang cinta damai.

Selain memenangkan dukungan AS atas konflik Palestina, prestasi terbesar lobi Isreal, memaksa AS menginvasi Irak. Perang tersebut Didorong oleh niat menciptakan situasi lebih aman bagi Israel (di Timur Tengah). Demikian fakta yang dipaparkan Philip Zelikow, mantan anggota badan penasihat presiden AS untuk urusan luar negeri.

Menurut Zelikow, Irak tak mengancam AS, melainkan Israel. Bukti lain, tajuk mantan Perdana Menteri Ehud Barak dan Benjamin Netanyahu di Wall Street Journal yang mendesak pemerintah Bush “menindak” Irak.

Kuatnya lobi Israel di amerika telah berhasil memaksa Amerika untuk membarikan bantuan sebesar 3 milliar dolar per tahun pada israel. Bantuan ini merupakan seperlima bantuan luar negeri Amerika. “Buku hijau” Badan Amerika untuk Pembangunan Internasional (USAID) mencatat, hingga 2003, total pinjaman dan hibah yang diterima Israel lebih dari US$ 140 miliar atau Rp 1.260 triliun, dua kali lipat anggaran Indonesia pada tahun 2006.

Iklan