Alhamdulillah, dalam beberapa hari ini Zita akhirnya sudah terlihat sehat.

Zita sudah sembuh.

Selama dua minggu lalu Zita demam, sering muntah dan susah makan. Kalau susah makan memang sudah dari dulu.

Alhamdulillah, setelah berobat dan ikhtiar, Zita sudah lahap makan, lebih ceria (dulu, walaupun sakit dia tetap memaksakan diri main dan main).

Zita sekarang selalu bilang sama bunda dan abinya.. mam..emammm. Di berikan piring berisi abon, ikan, bakso, sayur sop… zita langsung lahap. Zita ambil sendiri semua makanan… lahap. kadang dia mengambil kuah sop dengan sendok walaupun acak-acakan. tapi kami bahagia, zita sudah lahap makan. sebelumnya kami selalu di “nasehati” keluarga dan tetangga.
“Dikasih Makan dong!”

Ya, Allah, masak kami setega itu tidak memberikan makan pada anak tercinta kami.

Masalah sebenarnya, Zita terserang penyakit yang kompleks – ga jelasnya!… kata dokter pertama, zita terkena paru2, kata dokter kedua terkena TBC, dokter ketiga zita terkena ISPA (yang ini aneh, ketika zita dirawat, semua pasien balita yang ada di RS tersebut di diagnosa ISPA), dokter yang ke empat lagi bilang infeksi pencernaan? yang benar yang mana?? sampai sekarang kami masih menduga-duga!

Dugaan kami, zita memang ringkih – riskan terkena virus dan bakteri. daya tahannya kurang karena disapih ASInya saat umur 3 bulan gara-gara saya melahirkan anak kedua kami (fatih). walaupun kami bandingkan dengan balita tetangga, walaupun tidak diberi ASI si bayi tetap gemuk!?

Zita sejak kecil alergi laktosa susu sapi. Terpaksa minum susu formula soya/kedelai. Masalah terbesar waktu itu zita, sulit makan. pernah beberapa minggu makanan sudah masuk kemudian muntah. susu sudah di minum juga dimuntahkan.

Terakhir, zita di rontgen dengan kesimpulan paru-parunya kotor? dapatkah paru-paru mempengaruhi kemampuan dan kemauan makan sibayi? mudah2an ada yang mau jawab di blog ini.

Nah, saat ini zita sedang melakukan terapi obat/trial. obatnya warna orange, serbuk, dan harus di habiskan dalam satu bulan. yang kami tahu itu obat untuk paru2. Jika berat si anak naik dan nafsu makan, terapi dilanjutkan 5 bulan lagi. Bisa dibayangkan setiap pagi kami mencekoki obat pada zita. kasihan.

So, kami tetap bahagia, zita sudah lebih ceria, sering ngoceh, sering bersenandung, sering naik lemari, sering joget jika mendengar lagu berbeat cepat, sering memukul adiknya dengan seringai ekspresi puas (mhhmm tanda sayang atau cemburu ya?). Zita sudah bisa berkomunikasi, ini-itu, ada-ga ada, dan mudah mengikuti perintah.

Senangnya!

Iklan