Perbedaan studi implementasi, evaluasi implementasi dan evaluasi dampak dapat dilihat dari substansi kebijakan. Menurut Samoedra Wibawa (2005:3) Kebijakan secara substantif terbagi menjadi dua aspek, yaitu Aksi dan Konsekuensi Kebijakan. Dalam Aksi kebijakan merupakan suatu aktifitas yang dimulai dari input dan proses. Guna mencapai tujuan kebijakan, pemerintah harus melakukan aksi atau tindakan berupa penghimpunan sumberdaya dan pengelolaan sumber daya tersebut. Hasil dari aksi pertama dapat disebut input kebijakan dan aksi yang kedua secara terbatas disebut sebagai proses (implementasi) kebijakan. sedangkan konsekuensi kebijakan memiliki dua jenis pemahaman yaitu output dan dampak.  Output adalah barang, jasa, atau fasilitas  lain yang diterima oleh sekelompok masyarakat tertentu, baik kelompok sasaran maupun kelompok lain yang tidak dimaksudkan untuk disentuh oleh kebijakan. Output biasanya berupa dampak jangka pendek. Sedangkan dampak adalah perubahan kondisi fisik maupun social sebagai akibat dari output kebijakan. Dampak disini yang dimaksud adalah dampak jangka panjang.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa secara substantif, kegiatan dalam studi implementasi terdiri dari aksi kebijakan berupa input dan proses, sedangkan evaluasi implementasi merupakan studi atas konsekuensi kebijakan berupa output sedangkan evaluasi dampak merupakan studi atas konsekuensi kebijakan berupa dampak yang ditimbulkan rentetan aktifitas input, proses dan output kebijakan.

Secara metodologis, studi implementasi, evaluasi implementasi dan evaluasi dampak dapat dibedakan dengan pendekatan yang mengarah pada tujuan yang ingin dicapai dalam suatu penelitian.  Studi   implementasi   sering  menggunakan  pendekatan   ekploratif.   Studi  evaluasi implementasi dapat menggunakan pendekatan Deskriptif dan kausal. Sedangkan evaluasi dampak dapat menggunakan pendekatan deskriptif, eksplanatif dan kausal yang didalamnya berupa penilaian terhadap kepatuhan, auditing dan akunting.

Sedangkan secara aplikatif, studi implementasi, evaluasi implementasi dan evaluasi dampak dapat dibedakan melalaui suatu kegiatan kebijakan. Dalam studi implementasi, kebijakan dinterpretasikan sebagai program. Contoh: guna menjalankan kebijakan Pengentasan Kemiskinan pemerintah membuat Program PNPM Mandiri. Dalam program PNPM mandiri akan terdiri aksi berupa menyusun dan menganggarkan proyek-proyek pemberdayaan di desa, pelatihan pemberdayaan masyarakat, penyaluran dana dll. Setelah diterjemahkan sebagai program dan proyek lalu diikuti dengan tindakan fisik. Ketika tindakan fisik dilakukan maka akan timbul konsekuensi dan menjadi focus dari studi evaluasi implementasi dan evaluasi dampak.

Output dalam suatu program dalam hal ini contohnya PNPM Mandiri adalah tersedianya MCK di desa, Jembatan desa terbangun, Jalan di desa sudah menjadi baik dapat menghubungkan desa dengan desa lain, Gedung madrasah didirikan dan semua anak dapat sekolah di madrasah, Masyarakat mendapat bantuan modal usaha bergilir sehingga makin banyak warga desa mempunyai usaha sendiri.

Berdasarkan output yang diperoleh, studi evaluasi dampak kemudian ingin melihat, apakah ada perubahan secara social sebagai bentuk dampak jangka panjang. Apakah dengan PNPM mandiri dapat menciptakan kemandirian desa? Apakah masyarakatnya sudah maju (sejahtera) secara ekonomi? Apakah tingkat pengangguran sudah menurun? Apakah tingkat pendidikan didesa tersebut sudah meningkat?

Iklan