Ini adalah 25 daftar kekeliruan politik umat Islam khususnya di Indonesia yang pernah ditulis oleh pengamat Politik Eep Saepuloh Fatah (sekarang jarang muncul ya?) yang analisisnya tidak pernah basi dalam memandang politik umat Islam, apalagi sebentar lagi pemilu 2009 sudah semakin dekat, ini dia:
1. Senang membuat kerumunan, tidak rajin menggalang barisan.
2. Suka marah, tidak suka melakukan perlawanan.
3. Reaktif, bukan proaktif.
4. Suka terpesona oleh keaktoran, bukan oleh wacana atau isme yang iproduksi/dimiliki sang aktor.
5. Sibuk berurusan dengan kulit, tidak peka mengurusi isi.
6. Gemar membuat organisasi, kurang mampu membuat jaringan.
7. Cenderung memahami segala sesuatu secara simplistis,kurang suka dengan kerumitan-kecanggihan padahal inilah adanya segala sesuatu itu.
8. Sering berpikir linear tentang sejarah, kurang suka bersusah-susah memahami sejarah dengan rumus dialektika atau sinergi.
9. Enggan melihat diri sendiri sebagai tumpuan perubahan, sebaliknya cenderung berharap perubahan dari atas/para pemimpin.
10. Senang membuat program, kurang mampu membuat agenda.
11. Cenderung memahami dan menjalani segala sesuatu secara parsial, tidak secara integral (kaaffah).
12. Senang bergumul dengan soal-soal jangka pendek, kurang telaten mengurusi agenda jangka panjang.
13. Terus-menerus ”menyerang musuh” di markas besarnya, abai pada prioritas pertama ”menyerang musuh” pada gudang amunisinya.
14. Kerap menjadikan politik sebagai tujuan, bukan politik sebagai alat.
15. Senang mengandalkan dan memobilisasi orang banyak atau massa untuk segala sesuatu, abai pada fakta bahwa perubahan besar dalam sejarah selalu digarap pertama-tama oleh creative minority. (Ironisnya, ini justru secara spektakuler dicontohkan oleh Muhammad beserta lingkaran kecil di seputarnya di Mekkah serta kaum Muhajirin dan Anshar di Medinah).
16. Senang berpikir bagaimana memakmurkan masjid, kurang giat dan serius berpikir bagaimana memakmurkan jamaah masjid.
17. Senang menghapalkan tujuan sambil mengabaikan pentingnya metode, tidak berusaha memahami dengan baik tujuan itu sambil terus mengasah metode.
18. Senang merebut masa depan dengan meninggalkan hari ini atau merebut hari ini tanpa kerangka masa depan, bukannya merebut masa depan dengan mencoba merebut hari ini.
19. Sangat pandai membongkar dan membongkar, kurang pandai membongkar pasang.
20. Sangat cepat dan gegabah merumuskan musuh baru (dan lama), sangat lamban dan enggan merangkul kawan baru.
21. Gegap gempita di wilayah ritual, senyap di wilayah politik dan sosial.
22. Selalu ingin cepat meraih hasil, melupakan keharusan untuk bersabar.
23. Senang menawarkan program revolusioner tapi abai membangun infrastruktur revolusi.
24. Selalu berusaha membuat politik sebagai hitam putih, bukannya penuh warna tak terhingga.
25. Sangat pandai melihat kesalahan pada orang lain, kurang suka melakukan introspeksi.

Iklan