Di kompas, jumat, 8 Agustus 2008, saya baca artikel tentang kisah sedih nelayan Indonesia. Kisahnya, 11 Nelayan Kota Kupang NTT dari 240 nelayan seluruh Indonesia ditangkap oleh AL Australia gara-gara menangkap ikan di perbatasan RI-Austalia. Alasan penangkapannya, Para nelayan melanggar perbatasan antar negara. Konyolnya, di pengadilan Asutralia, Peta Indonesia yang dibawa nelayan tidak diakui pemerintah Australia. Menurut mereka, peta yang dibawa nelayan hanya berlaku di Indonesia, tetapi tidak berlaku bagi Australia. Parahnya, dengan kejam dan tanpa berperikemanusiaan, Semua kapal nelayan Indonesia di bakar dan ditenggelamkan. Biadabnya lagi, ketika para nelayan menangis sedih kapal mereka dibakar dan ditenggelamkan, para tentara Australia menertawakan tangisan para nelayan Indonesia dengan terbahak.

Sedih, geram dan jengkel. Kita tidak heran dengan kelakuan Australia yang bawaan nenek moyangnya memang jahat dan narapidana. Tapi adakah tindakan pemerintah Indonesia untuk melindungi nelayan kita? Miskinkah laut kita dengan ikan-ikan berkualitas hingga para nelayan harus “bersempit-sempit” mencari ikan di daerah perbatasan.

Pertanyaan di atas mengingatkan saya ketika memancing di laut Bojonegara Banten bersama nelayan sana. Memang sulit mendapatkan ikan dengan mudah. Menjala – bahasa daerah sana, tawur – saja sangat sulit mendapatkan ikan-ikan besar. Kabarnya, menurut para nelayan kondisi tersebut diakibatkan karena banyaknya berdiri industri-industri di sepanjang pantai Bojonegara.

Melihat kesejahteraan para nelayan disana, sepertinya potretnya akan tidak jauh berbeda dengan kehidupan para nelayan seluruh Indonesia. Sulit mencari orang kaya karena profesinya karena nelayan. Kampung-kampung nelayan pasti identik dengan, kumuh, bau amis dan penuh dengan lumpur hitam…

Oh nelayan, dimanakah pemimpin anda? Janganlah tertupi saat Pilpres nanti….

Iklan